Jumat, 22 Juli 2011

Calon Menantu


Ada sepenggal cerita yang sangat bagus untuk mengingatkan kita / antum sekalian yang mengikrarkan dirinya sebagai kader dakwah. Ada pesan spiritual yang dalam di akhir cerita ini, semoga bisa menyadarkan kita kembali untuk dapat meningkatkan kualitas ibadah kita. selamat membaca 


”Ass, Kak. Aku baru nyampe rumah.”
Tak sabar Yayah mengirimkan SMS itu begitu tiba kembali di Tanah Air. Empat tahun lamanya ia menuntut ilmu di Al-Azhar University, Cairo. Tiga tahun di antaranya dilaluinya dengan menyimpan kenangan dan rindu kepada Qodari. Ya, lelaki asli Madura itu telah merebut hatinya sejak saat pertama menyambut kedatangannya di pagi buta, di Bandara Internasional Cairo. Bersama sejumlah
senior lainnya, Qodari menjemput rombongan mahasiswa baru Al-Azhar University asal Indonesia yang merupakan peserta program beasiswa kerja sama Indonesia-Mesir.

Yayah segera saja menjadi bintang mahasiswa Al-Azhar angkatan tahun tersebut. Posturnya tinggi, dengan hidung bangir, bibir merah delima asli tanpa pulasan lipstik, dan kulit seputih kapas. Busana apa pun yang dikenakan gadis berdarah Sunda itu hanya membuatnya makin kelihatan cantik dan mempesona. Banyak kakak kelasnya yang berupaya menampakkan perhatiannya. Terutama mahasiswa tahun keempat yang sudah hampir lulus S-1 maupun mereka yang sedang menempuh jenjang pendidikan Pasca Sarjana.



Hanya Qodari yang sama sekali tak pernah memberikan sinyal khusus kepadanya. Meskipun ia tak pernah menolak jika Yayah memerlukan bantuannya. Terkadang Yayah ingin bertanya kepada kakak kelasnya, apakah Qodari sudah mempunyai calon istri. Namun ia merasa malu sendiri. Baru datang ke Mesir kok udah bicara cinta? Setahun kemudian, Qodari lulus S-1. Ia akan pulang ke Indonesia sebentar, lalu melanjutkan pendidikan S-2 di Pakistan.

Yayah dan sejumlah teman mengantarnya ke bandara. Ada yang terasa hilang di jiwanya saat sosok lelaki yang selama ini kerap mengisi relung batinnya itu menghilang dari pandangan sesaat setelah melewati imigrasi. Negeri Mesir yang indah kini terasa begitu hampa. Ketika mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan bandara, matanya menatap jauh ke landasan, ke deretan burung-burung besi yang dengan angkuhnya bertengger di sana. Kalau saja ia punya sayap, ingin rasanya ia terbang dan hinggap di pesawat yang akan
mengantar Qodari pulang ke Indonesia.

Betapa kejamnya Kak Qodari. Ia pergi tanpa pernah memberikan tanda apa pun kepadanya. Apakah ia begitu keras hatinya, sehingga tak mampu menangkap sinyal perasaan yang dikirimkan oleh seorang gadis — meski itu hanya berupa wajah memerah dan sikap canggung manakala tanpa sengaja berpapasan di perpustakaan kampus, Masjid Al-Azhar, dan Wisma Nusantara yang merupakan
pusat aktivitas mahasiswa Indonesia di Mesir. Padahal, lulusan terbaik Al-Azhar University dengan predikat Mumtaz itu dikenal selalu ramah dan simpatik kepada siapa pun.

Diam-diam ia pun menyesali dirinya. Kenapa ia tak berterus terang saja, atau setidaknya mengirimkan sinyal yang lebih jelas, misalnya berupa SMS yang berisi sindiran tentang cinta. Atau, mengapa ia tidak menitipkan salam lewat salah seorang kakak kelasnya yang sama-sama aktif di PPMI bersama Qodari?

”Yayah, kamu sakit?” tanya Aisyah, melihat wajah Yayah yang agak pucat. Buru-buru Yayah menggeleng. ”Ah, tidak. Hanya kurang tidur saja,” kilahnya. 

Sesaat sebelum pesawat Singapore Airlines yang akan membawanya dari Cairo ke Jakarta bersiap-siap untuk lepas landas, Qodari mengirimkan SMS: ”Bila kamu mau menjadi istriku, aku akan menunggumu.’ ‘ Membaca SMS tersebut Yayah rasanya ingin berteriak dan melompat dari mobil. Namun ia berusaha menahan perasaannya sewajar mungkin.

”Welcome home. Jadi, kapan aku boleh datang melamarmu? Wss.” Balasan dari Qodari selalu pendek dan to the point. Namun itu sudah lebih dari cukup. ”Aku akan bicara dulu dengan Abah. Nanti aku kabari Kakak.” Butuh waktu sebulan, baru KH Syamsuri, ulama terpandang di Bekasi, mengizinkan Qodari datang melamar putri kesayangannya. ”Saya tunggu Jumat pagi, pukul enam,” kata KH Syamsuri kepada Qodari, lewat telepon.

Dua tahun di Pakistan, Qodari kembali ke Tanah Air dengan menggondol gelar Master di bidang ekonomi syariah. Ia mengajar ekonomi syariah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Ia rajin menulis di media massa, khususnya mengenai ekonomi Islam. Ia pun menjadi da’i dan sudah mulai sering tampil di acara keislaman di televisi. Tepat pukul enam kurang 10 menit, ia tiba di rumah Sang Kiai. Ulama kharismatis itu sedang duduk di beranda sambil memegang tasbih dan melantunkan zikir.

”Assalaamu’ alaikum.’ ‘ KH Syamsuri menoleh. ”Wa’alaikumsalaam. ”
Qodari segera mencium tangan Sang Kiai. ”Saya Qodari.”
”Silakan duduk.” Suaranya terdengar berwibawa. Sorot matanya tajam.
”Terima kasih, Pak Kiai.”
Yayah menyaksikan dari dalam rumah. Hatinya berdegup kencang melihat wajah
yang selalu dirindukannya itu.
”Sayang, mana tehnya?”
”Siap, Abah.”
Yayah segera mengantarkan minuman teh manis. Wajahnya terasa bersemu merah
ketika Qodari menatapnya. Tanpa sengaja ia menunduk.
”Duduk di sini, sayang,” kata KH Syamsuri.
Dengan kikuk, Yayah duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan Qodari.
”Silakan jelaskan, apa tujuan kamu datang ke rumah saya,” suara KH
Syamsuri terdengar sangat tegas.
”Terima kasih, Pak Kiai. Saya berniat melamar Yayah untuk menjadi istri
saya.”
KH Syamsuri tidak langsung menjawab. Ia menatap pemuda di hadapannya,
seperti ingin mencari kepastian di matanya. Tanpa sadar, Qodari mengangguk.
Yayah merasa serba salah. Ia tidak berani mendonggakkan wajahnya.
”Tadi malam kamu shalat Tahajud?” tanya KH Syamsuri tiba-tiba.
”Ya, Pak Kiai.”
”Tadi pagi shalat Shubuh di mana?”
”Saya shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata Timur,
Kalimalang.’ ‘
”Ya, sudah. Tiga bulan lagi kamu balik ke sini.”
Setelah itu, KH Syamsuri masuk ke dalam rumah. Qodari pun beranjak pulang.
Yayah ingin protes kepada abahnya. Namun ia tidak berani. Abahnya sangat
sayang kepadanya, apalagi semenjak ibunya meninggal enam tahun lalu. Namun
ia sangat tegas memegang prinsip.
Tiga bulan kemudian, Qodari datang lagi. Namun hal yang sama berulang. Ia
diminta datang lagi tiga bulan kemudian. Lagi-lagi, pertanyaannya sama,
yakni di mana dia shalat Tahajud dan shalat Shubuh.
Hari ini, untuk yang kelima kalinya Qodari datang ke rumah KH Syamsuri.
Berarti kurang lebih setahun lamanya ia melamar Yayah. Pertanyaan KH
Syamsuri tetap tidak berubah.
”Saya Tahajud dilanjutkan Shubuh berjamaah di Islamic Centre Bekasi,”
sahut Qodari mantap.
”Selama setahun ini, berapa kali kamu tidak shalat Tahajud, dan berapa kali
kamu tidak shalat fardhu berjamaah.”
”Alhamdulillah, tidak satu kali pun, Pak Kiai.”
Tiba-tiba KH Syamsuri bangkit dari duduknya, dan memeluk Qodari. ”Aku
izinkan engkau menikahi putriku. Bimbinglah ia ke jalan yang diredhai Allah,
dunia dan akhirat,” bisiknya perlahan namun tegas di telinga Qodari.
Yayah menarik napas lega. Wajahnya tiba-tiba tersenyum sumringah.

KH Syamsuri melirik putrinya. ”Sayangku, calon suamimu berkhidmat di bidang dakwah dan pendidikan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang dai yang istiqamah, kalau ia tidak menegakkan shalat Tahajud dan shalat fardhu berjamaah? Ketahuilah, Tahajud merupakan pakaian para Nabi, Rasul dan orang-orang saleh. Sedangkan shalat fardhu jamaah merupakan ukuran kesungguhan iman seseorang. Kamu pasti pernah membaca hadits, cukuplah untuk mengetahui seseorang itu golongan munafik atau bukan dari shalat Shubuhnya, berjamaah
atau tidak.”


BISNIS ONLINE Terpercaya dan Menguntungkan JIKA BERMINAT SILAKAN KLIK BANNER GAMBAR Dibawah ini dan Masukan NAMA dan EMAIL anda di subcriser nanti untuk bisa melihat-lihat Info bisnis Ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar